Dehumanization Theory: Global Village adalah Contoh Dehumanisasi di Indonesia

Artikel ini merupakan buah gagasan Andika Sanjaya ketika dalam penyelesaian studi sarjana di Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas  Maret.  Artikel ini ditulis pada 1 Juni 2010 untuk menjawab pertanyaan jelaskan secara luas bahwa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi mampu menciptakan “global dehumanization”. Pertanyaan ini muncul dalam mata kuliah "Komunikasi Antar Budaya" yang diampu oleh Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA, seorang guru besar dalam bidang Ilmu Komunikasi Lintas Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS).


Global Dehumanization


Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi merupakan indikasi adanya era globalisasi. Sadar atau tidak inilah fenomena sosial dan kebudayaan yang terjadi di abad 21, Globalisasi telah menciptakan berbagai bentuk deteritorialisasi kebudayaan yaitu tercerabutnya kebudayaan dari teritorialnya, untuk kemudian berputar dalam ruang kapitalisme global tanpa henti, lewat berbagai medianya. 

Globalisasi ekonomi, informasi, dan kebudayaan telah menyebabkan lenyapnya batas-batas ruang, teritorial, suku, agama, bangsa dan negara. Ruang ruang itu dibentuk oleh elemen elemen yang baru, yang pada titik perkembangannya akan menciptakan segmentasi ruang, duplikasi ruang, dan akhirnya halusinasi ruang.         

Terbentuknya The Global Village

Berkah perkembangan tersebut telah memperkecil ruang, memperpendek jarak, serta mempersingkat waktu. Akibatnya, dunia yang dulu dibayangkan amat luas, kini menjadi sebuah desa global (the global village).  

Proses globalisasi telah melahirkan differensiasi yang luas, yang tampak dari proses pembentukan gaya hidup dan identitas. Etnis dan agama secara teoritis menjadi kurang penting karena mulai digantikan oleh ikatan ikatan baru sebagai akibat pergeseran identitas dan makna diri dalam lingkup sosial dan kultural.  

Dalam keadaan demikian McHale menyebut istilah global instantaneousness (dadakan global) di mana perkembangan percakapan lebih maju lagi sehingga populasi manusia di satu belahan bumi dapat menerima informasi dalam jumlah besar tentang suatu peristiwa yang terjadi di belahan bumi lainnya, tanpa perlu ditunda-tunda. 

Dampak dari desa global dapat dirasakan ketika setiap orang dapat dengan mudah mengakses informasi melalui media massa seperti telepon, televisi, radio, surat kabar maupun internet. Berkat media massa sebagai pembentuk budaya pop (pop culture), informasi yang berasal dari seluruh penjuru dunia bahkan meliputi daerah terpencil pun dapat dengan mudah diakses dengan mudah. 

Globalisasi budaya identik dengan budaya pop dan postmodernisme yang bersifat fleksibel dan berubah-ubah. Budaya pop awalnya merupakan hegemoni budaya Barat, terutama Amerika, ditandai dengan merebaknya gaya hidup Amerika melalui industri budayanya seperti musik, olahraga,  fastfood, mode pakaian, dan film-film Amerika di seluruh dunia. Namun kondisi ini pun tidak selalu statis. Sesuai sifatnya yang fleksibel dan berubah-ubah, budaya pop menjadi sangat terbuka untuk diisi oleh budaya manapun.  

Bagi negara-negara adikuasa yang notabene memiliki kemajuan teknologi informasi di segala bidang, tentunya akan lebih mudah dalam menyalurkan budaya mainstream mereka keluar wilayah batas negara. 

Mainstream adalah arus utama, bisa dibilang pemikiran mayoritas. Mainstream jauh dari kohesif, Konsep ini seringkali dianggap sebagai konstruksi budaya. Ini adalah istilah yang paling sering digunakan dalam seni (yaitu, musik, sastra, dan kinerja). Dengan demikian, mainstream memuat segala budaya populer, biasanya disebarkan oleh media massa.  

Dalam dunia film, mainstream film dapat didefinisikan sebagai film komersial yang memiliki rilis luas dan dimainkan di bioskop-bioskop utama. Bisa dibilang yang menjual, dan diminati pasar pada saat itu. Film-film Hollywood biasanya dianggap sebagai mainstream karena film-film didalamnya kebanyakan film mainstream. 

Mainstream menunjukkan jalan tengah viabilitas komersial, kadang-kadang menyiratkan bahwa viabilitas komersial sama saja dengan hilangnya kreativitas artistik. Kebalikan dari film mainstream mungkin film eksperimental, film seni atau film kultus.

Mainstream media atau media massa, umumnya digunakan untuk mencetak publikasi, seperti koran dan majalah yang banyak dibaca oleh masyarakat, bersama dengan stasiun televisi dan radio yang berisi acara-acara yang diminati penonton. 

Hal ini berbeda dengan berbagai publikasi independen, seperti surat kabar mingguan alternatif, majalah khusus dalam berbagai organisasi dan perusahaan, dan sumber elektronik seperti podcast dan blog. Mereka lebih mengulas sisi lain dari yang di beritakan di mainstream.

The Cultural Domination

Seperti dalam konteks Indonesia, untuk jangka panjang semua kebudayaan daerah memelihara sistem nilai, norma bahkan paramount values yang merupakan nilai tertinggi bagi suatu kebudayaan ikut ikut dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya lewat proses sosialisasi masyarakat yang bersangkutan. 

Semakin lama perkembangan kehidupan, semakin besar kewajiban untuk mempertahankan paramount value tersebut. Begitu juga dengan kebudayaan yang dianggap dominan, mereka tetap mempertahankan kebesaran serta menjaga eksistensi kebudayaannya untuk tetap survive

Akibatnya, terjadilah apa yang disebut sebagai dominasi budaya (cultural domination). Dampak kontak kebudayaan pada tingkat individual bisa terjadi dalam bentuk mempertahankan nilai budaya asli, menanggalkan kebudayaan asli, dan sebagainya. Hal ini mengacu kepada sifat dasar bawaan individu yang bersangkutan. Bisa pula sebagai hasil pembentukan kebudayaan aslinya sendiri yang begitu eksklusif membentuk manusia-manusianya. 

Jika kondisi masyarakat pasif, dominasi budaya dapat dengan mudah terjadi. Sedikit demi sedikit, lambat namun pasti budaya mainstream mampu mengikis budaya nasional dan lokal suatu negara. Ini karena orang lebih cenderung suka untuk meniru budaya asing, yang lebih menjual dan mengikuti perkembangan jaman. 

Menurut Turner (1984) , budaya pop dan media massa memiliki hubungan simbiotik di mana   keduanya   saling   tergantung   dalam   sebuah   kolaborasi   yang   sangat   kuat. Kepopuleran suatu budaya sangat bergantung pada seberapa jauh media massa gencar mengkampanyekannya. 

Begitu pula media massa hidup dengan cara mengekspos budaya-budaya yang sedang dan akan populer. Maka kita harus memprioritaskan terlebih memprioritaskan terlebih dahulu produk-produk budaya yang berkaitan dengan komunikasi massa. 

Berkat media televisi, film-film yang berasal dari belahan bumi lain, semisal Amerika Serikat (Hollywood) yang menjadi box office dalam kancah perfilman internasional sekarang bisa dinikmati oleh seluruh ndonesia. Bahkan penayangan acara tersebut terkadang nyaris tanpa sensor, sehingga apa yang tampak, itulah yang dilihat bahkan mungkin ditiru oleh masyarakat Indonesia. 

Sebagai contohnya, adalah penayangan film-film bergenre remaja semisal Twilight, American Pay, Juno, dan masih banyak lagi. Dalam film itu begitu banyak ditayangkan adegan-adegan bercinta nyaris tanpa sensor yang nampaknya kurang layak apabila dipertontonkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang menganut budaya ketimuran. 

Adegan kissing, necking, bahkan making love di tempat umum mungkin menjadi hal yang biasa di lakukan di kalangan western, namun tidak untuk Indonesia yang menjunjung tinggi norma dan nilai sopan santun. 

Namun karena adanya cultural domination, yang ditakutkan pun terjadi. Banyak remaja-remaja di Indonesia yang menganut gaya pacaran ala Hollywood yang cenderung bebas bahkan terkadang mengabaikan etika moral. Hal itu dibarengi pula dengan gaya artis-artis mancanegara yang mampu menjadi trendsetter. 

Banyak situs-situs internet serta majalah remaja di Indonesia yang banyak memuat gambar-gambar selebritis mancanegara dengan tren gaya berbusana mereka. Dan tak berapa lama kemudian, gaya itu mampu menjadi trend fashion yang ditiru oleh masyarakat dunia. 

Dengan kata lain, dominasi budaya mampu menarik perhatian masyarakat untuk mengikutinya, agar tidak dianggap ketinggalan jaman. Timbullah apa yang disebut dengan Generation of “new life style”. 

Karena itu tidak heran juga jika remaja indonesia cenderung lebih hafal dengan lagu-lagu sebangsa Miley Cyrus, Beyonce, Chris Brown, dibanding lagu-lagu daerah seperti Yamko Rambe Yamko, Sipatokaan, Manuk Dadali, dan sebagainya. 

Jika dominasi budaya terus berlangsung secara kontinyu tanpa dibarengi adanya good governance untuk mengadakan suatu revitalisasi budaya dari budaya asal, nantinya akan mampu mendorong terciptanya keseragaman budaya (cultural homogenization).

Global Dehumanization 

Secara semantik, dehumanisasi terjadi tatkala nilai-nilai luhur yang ada dalam teks ideologi, budaya dan agama tidak lagi berfungsi efektif sebagai pegangan hidup manusia sehari-hari, sehingga kebudayaan kehilangan dukungan kolektif dan manusia cenderung hidup tanpa basis keluhuran kebudayaan. 

Dalam habitat seperti itu, manusia cenderung berperilaku sebagai serigala satu terhadap yang lain. Moral dan etika kehidupan sangat rapuh, jati diri terombang-ambing dan keharkatan berkembang makin nihil. Kehidupan mengalami kevakuman kultural. Fisik, rasio, rasa dan hati nurani tidak dalam kondisi seimbang.  

Proses dehumanisasi sebagaimana dikatakan oleh sosiolog Max Weber (1864-1920), secara lambat namun pasti, menggerogoti masyarakat kita. Industrialisasi yang memegang teguh prinsip-prinsip rasionalisasi telah melahirkan disenchantment of the world. 

Proses lunturnya daya tarik dunia karena semua yang ada dalam kehidupan bumi dapat dihitung secara rasional. Akibatnya, terjadilah penurunan kualitas kehidupan manusia (dehumanisasi), karena segala hal yang tadinya bersifat subjektif dapat diubah menjadi objektif, kualitatif menjadi kuantitatif.

Kesimpulan

Berkaitan dengan pembahasan Ilmu pengetahuan dan Teknologi serta dampak-dampak yang dimunculkan, sebagai upaya preventif, hendaknya memperhatikan hal-hal berikut : 

  1. Pengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi bagaimanapun juga tetap perlu untuk menengok agama sebagai alat pengendali, sebab jika tidak demikian manusia hanya mementingkan tuntutan hidup di dunia dengan tidak mempertimbangkan tujuan akhir hidup manusia. 
  2. Bagaimanapun dehumanisasi sebagai dampak pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat dihilangkan sama sekali. Resiko ini sedapat mungkin dapat diperkecil mengingat manusia mempunyai hak-hak asasi. Hak ini bila dihilangkan maka akan hilang kemanusiaannya dan tidak dapat digantikan dengan apapun juga. 
  3. Setinggi apapun pola pikir manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedapat mungkin manusia bisa membatasi diri antara kekuasaan manusia dan kekuasaan Tuhan. Bila manusia melampaui batas ini maka manusia telah menjadi makhluk yang serakah, bukan saja untuk merebut Hak Tuhan, tetapi juga merampas hak manusia yang lain. 
  4. Kiranya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di samping harus terkait dengan hukum Tuhan (dalam ajaran-ajaran-Nya), maka ilmu pengetahuan dan teknologi juga harus memegang teguh etika, sehingga tidak merambah pada dampak-dampak yang tidak diinginkan manusia secara objektif.





Scout Indonesia. Jangan lupa klik dan subscribe kanal Youtube LigaIndonesia.My.Id untuk memperoleh video-video sepakbola akar rumput. 

Video LigaIndonesia.My.Id terakhir:




DAFTAR PUSTAKA


Susanto, Astrid S. 1995. Globalisasi dan Komunikasi. Pustaka Sinar Harapan : Jakarta.

Nina Widyawati, 2005, “Globalisasi Media vs Lokalisasi”, Majalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia: Komunika Vol 8 No 2, 2005.

Asa Briggs & Peter Burke, 2006, Sejarah Sosial Media, dari Gutenberg Sampai Internet, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

John Tomlinson, 2003, Cultural Imperialism: A Critical Introduction, Continuum International Publishing Group, London.

Andrik Purwasito, 2009, “Tantangan Globalisasi Relevansinya dengan Persatuan dan Kesatuan Bangsa serta Budaya Bangsa”, Paper pada IP Seminar: Dialog Menakar Ulang Pluralisme dengan Pancasila,Karanganyar.

Yasraf Amir Piliang, 2003, Hantu-Hantu Politik dan Matinya Sosial, Tiga Serangkai, Solo.

Suray Agung Nugroho, tanpa tahun, “Hallyu ‘Gelombang Korea’ di Asia dan Indonesia: Trend Merebaknya Budaya Pop Korea”, Online, (Cited 2010 may. 8), available from : URL : http://elisa.ugm.ac.id/files/suray_daryl/lKsnBhys/hallyu.doc

Yusmar Yusuf, 1991, Psikologi Antar Budaya, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Sidiq Maulana, 2009, “Ekspansi budaya: Lepas Landas Kebudayaan Indonesia”, Online (Cited 2010 apr 23), available from: URL : http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Sidiq-Maulana-Muda-_-Ekspansi-Budaya-Lepas-Landas-Kebudayaan-Indonesia.pdf

Comments